Asal Mula
Bunga Bangkai
Seorang selir bernama
Ambarwati berniat menggantikan posisi permaisuri hingga melakukan hal nekat, ia
membunuh sang saingan serta mengguna-gunai putri raja yang bernama Kemuning
hingga tubuhnya mengeluarkan bau bangkai.
Semua yang dilakukan
Ambarwati bertujuan satu, ia ingin posisi Kemuning sebagai pewaris digantikan
oleh Gayatri putrinya. Akibat dari siasat liciknya, Kemuning dikucilkan dan
kerap dilecehkan oleh siapapun yang lewat akibat bau badannya yang menyengat.
Di tempat lain, putra
mahkota kerajaan Gandara Sakti bernama Jaka juga mengalami nasib sama. Bedanya,
Jaka terkena sumpah-serapah karena kerap mempermalukan sang ayah kandung yang
berkedudukan sebagai raja. Akibat sumpah tersebut, seluruh wajah dan tubuhnya
dipenuhi penyakit buduk. Saking malunya, Jaka diam-diam pergi dari istana.
Tidak ingin sang putri
terus-terusan didera kemalangan, Aryo Seto yang sudah putus asa menggelar
sayembara untuk menyembuhkan bau badan Kemuning. Saat itu, Jaka tampil sebagai
salah seorang peserta. Sudah tentu, banyak yang meragukan mengingat sosoknya
yang penuh buduk.
Berkat petunjuk seorang
mantan panglima sekaligus adik ipar raja bernama Balapati (yang juga menjadi
korban fitnah Ambarwati), Jaka mengambil setangkai bunga Palasara yang diyakini
mampu menyembuhkan sang putri. Perjuangan mendapatkan bunga itu tidak
main-main, pasalnya Jaka harus mengambilnya dari perut seekor naga raksasa.
Bunga itu akhirnya
tidak cuma bisa menghilangkan bau bangkai di tubuh Ambarwati, tapi juga
menyembuhkan penyakit kulit Jaka. Tidak cuma itu, Jaka belakangan juga berhasil
membongkar kejahatan Ambarwati.
Atas pesan sang naga,
Jaka akhirnya tetap memelihara bunga Palasara dengan menanamkan di taman
istana. Secara mengejutkan, bunga itu tumbuh dan berkembang menjadi setangkai
bunga yang mengeluarkan bau bangkai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar