Tsunami Krakatau yang Mematikan
Letusan Krakatau pada (21/8/2011) lalu menelan korban jiwa lebih dari 36.000 orang
dan menghancurkan pesisir Lampung dan barat Jawa. Kengerian itu terutama
ditimbulkan oleh tsunami yang terjadi menyusul letusan ini.
Begitu hebatnya tsunami saat itu hingga
mengubah lanskap pesisir barat Jawa, seperti Anyer dan Carita. Jejak tsunami
ini bisa dilihat dari sebaran bongkahan terumbu karang di pesisir Banten dengan
diameter 0,5 meter-5 meter. Terumbu karang itu terbongkar dari laut dan
terangkat oleh tsunami. Salah satu batu karang terbesar yang ditemukan memiliki
berat 600 ton yang hingga kini terdapat di halaman hotel di dekat mercusuar
Anyer.
Tinggi tsunami di pesisir barat Jawa
seperti di Merak, menurut kesaksian, mencapai lebih dari 25 meter, di Teluk
Betung gelombang mencapai 15 meter, bahkan di beberapa tempat mencapai 35
meter.
Terjadinya tsunami saat letusan Krakatau
1883 menimbulkan perdebatan. Para ahli geologi, oseanografi, dan paleotsunami
menyusun sejumlah skenario penyebab tsunami, antara lain ledakan di bawah laut,
runtuhnya kubah dalam skala besar di bagian utara Krakatau, dan luncuran
piroklastik (awan panas).
Namun, lewat berbagai penelitian dan
simulasi tsunami di laboratorium, semakin diyakini bahwa luncuran piroklastik
atau awan panaslah yang membangkitkan tsunami. "Letusan saja tidak cukup
untuk membangkitkan tsunami dahsyat seperti yang terjadi saat letusan Krakatau
tahun 1883. Teori lain, yakni jatuhnya kubah gunung dapat menimbulkan tsunami,
tetapi syaratnya keruntuhan yang membentuk kaldera itu harus mendadak atau
tiba-tiba," ujar geolog yang meneliti paleotsunami, Gegar Prasetya.
Letusan Krakatau membentuk kaldera berdiameter 7 kilometer di kedalaman 270
meter. Permasalahannya, tidak ada yang tahu apakah jatuhnya kubah itu secara
perlahan atau tiba-tiba.
Gegar juga pernah membuat percobaan
serupa di laboratorium untuk menguji keempat teori itu untuk keperluan
disertasinya tentang tsunami tahun 1998 di Laboratorium BPPT, Yogyakarta. Gegar
membuat model tsunami gunung berapi untuk membuktikan teori letusan gunung,
runtuhnya formasi kaldera, dan luncuran awan panas berdasarkan peristiwa
letusan Krakatau pada 1883. Model fisik digunakan sebagai prototipe letusan
Gunung Krakatau dan tsunami dalam simulasi itu.
"Dari simulasi diketahui, tsunami
disebabkan oleh luncuran awan panas," ujar Gegar. Sebuah letusan besar
atau dahsyat tidak dapat memproduksi ombak seperti yang terjadi pada letusan
Krakatau tahun 1883. Percobaan serupa pernah dilakukan peneliti lain di Jerman
dan menunjukkan hasil yang sama.
Kesimpulan itu juga didukung dengan
survei dan pengujian terhadap sampel inti yang diambil dari dasar laut di
kawasan Krakatau oleh geolog Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island,
Amerika Serikat. Haraldur yang melakukan penyelaman sekitar tahun 1990-an itu
menemukan material awan panas di dasar laut yang melingkar dan hampir simetris
di sekitar Krakatau.
Gegar meyakini, setelah letusan
Krakatau, luncuran awan panas yang seperti buldoser dan kecepatannya dapat
mencapai ratusan kilometer per jam itu membangkitkan tsunami tinggi. Tsunami
itulah yang menelan pesisir dan menewaskan penduduk di sekitar.
Tidak hanya menimbulkan tsunami,
luncuran awan panas membakar permukiman dan penduduk di bagian tenggara
Lampung. Johanna Beyerinck, istri dari petugas kontroler Belanda, Willem
Beyerinck, menuliskan kesaksiannya. Pasangan itu dan tiga anak mereka tinggal
di desa pesisir Katimbang di Lampung, sekitar 40 kilometer sebelah utara
Krakatau.
Pada 27 Agustus, pukul lima pagi,
Johanna berkeliling dan melihat api di mana-mana. Mereka yang bertahan di
gubuk-gubuk terpukul awan panas dari ledakan Krakatau pukul 10.02 dan menderita
luka bakar. Dari 3.000 orang yang berada di kawasan itu, sekitar 10.000 orang
meninggal karena terbakar oleh abu panas membara.
Gegar menjelaskan, terdapat dua jenis
material awan panas, yakni material padat dan gas. "Material padat, dengan
berat jenisnya, akan masuk ke laut. Sedangkan material yang lebih ringan,
seperti gas, menjalar di permukaan laut dan mencapai pesisir. Itu yang
membumihanguskan Desa Katimbang. Gas dan panas itu membakar orang-orang.
Setelah itu, datanglah tsunami,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar