Dinosaurus Mini Sebesar Merpati
OHIO— Fosil dinosaurus yang baru saja
ditemukan ilmuwan mengubah pandangan bahwa satwa purba itu selalu berukuran
raksasa. Microraptor, demikian makhluk itu disebut, cuma sebesar merpati.
Palaentolog
menduga bahwa fosil microraptor yang ditemukan berasal dari zaman
Cretaceous, 130 juta tahun yang lalu. Hewan tersebut mendiami wilayah timur
laut China.
Berdasarkan
analisis, ilmuwan mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki
perawakan seperti burung gagak. Ilmuwan juga berpendapat bahwa satwa ini
mengibaskan ekornya seperti merak.
Dalam proses
identifikasi, ilmuwan menganalisis fosil sayap dengan ikroskop elektron untuk
melihat struktur melanosome. Struktur tersebut sangat kecil, tetapi
berperan dalam penentuan warna bulu.
Diketahui
bahwa susunan melanosome memengaruhi warna bulu. Jika melanosome
tersusun rapi, maka bulu akan berwarna gelap. Jika sebaliknya, maka bulu akan
berwarna lebih terang.
Peneliti kemudian mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki bulu berwarna hitam. Namun, belum diketahui apakah bulu tersebut mengilau.
"Keratin tidak terawetkan dalam fosil, jadi kami tak bisa secara langsung menyimpulkan adanya permainan warna," ungkap Matthew Shawkey, asisten profesor di Universitas Akron, Ohio, yang terlibat riset.
Yang menarik dari microraptor ini adalah bulu ekornya yang diduga memiliki ornamen khas. Ilmuwan menduga, bulu ekor tersebut digunakan untuk menarik lawan jenis.
"Saya kira ini contoh pertama bulu ekor yang sangat kaya ornamen. Apakah bulu itu bisa terangkat (seperti pada merak) atau tidak, ada kemungkinan bahwa spesies ini bisa memamerkannya," ungkap Shawkey
Peneliti kemudian mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki bulu berwarna hitam. Namun, belum diketahui apakah bulu tersebut mengilau.
"Keratin tidak terawetkan dalam fosil, jadi kami tak bisa secara langsung menyimpulkan adanya permainan warna," ungkap Matthew Shawkey, asisten profesor di Universitas Akron, Ohio, yang terlibat riset.
Yang menarik dari microraptor ini adalah bulu ekornya yang diduga memiliki ornamen khas. Ilmuwan menduga, bulu ekor tersebut digunakan untuk menarik lawan jenis.
"Saya kira ini contoh pertama bulu ekor yang sangat kaya ornamen. Apakah bulu itu bisa terangkat (seperti pada merak) atau tidak, ada kemungkinan bahwa spesies ini bisa memamerkannya," ungkap Shawkey
Bulan, Penyebab Tenggelamnya Titanic
SAN ANTONIO,
- Satu abad
setelah bencana Titanic, beberapa ilmuwan telah menemukan "pelaku
yang tak terduga" atas tenggelamnya kapal itu. Si tersangka itu adalah
Bulan.
Konfigurasi
ini memaksimalkan kekuatan pasang naik oleh Bulan di semua samudra Bumi. Itu
luar biasa.
Setiap orang
yang mengetahui sejarah atau telah melihat film blockbuster mengenai
kapal tersebut tahu bahwa penyebab kecelakaan kapal trans-Atlantik itu 100
tahun lalu adalah kapal menabrak gunung es.
"Namun,
hubungan Bulan mungkin menjelaskan bagaimana sangat banyak gunung es berada di
jalur Titanic," kata Donald Olson, ahli fisika di Texas State University
yang tim ahli astronomi forensiknya meneliti peran Bulan.
Sejak
Titanic tenggelam saat dini hari 15 April 1912, dan menewaskan 1.517 orang,
para ilmuwan telah bertanya-tanya mengapa Kapten Edward Smith tampaknya
mengabaikan peringatan bahwa gunung es berada di daerah tempat kapal itu
berlayar.
Smith adalah
kapten paling berpengalaman di White Star Liner dan telah berulangkali berlayar
serta menjelajahi jalur laut Atlantik Utara. Ia telah diberi tugas untuk
memimpin pelayaran perdana Titanic, karena ia adalah pelaut yang hati-hati dan
punya pengetahuan.
Gunung es
Greenland dengan jenis yang ditabrak Titanic biasanya terpancang di perairan
dangkal Labrador dan Newfounland. "Karena besarnya, gunung es itu tak bisa
terus bergerak ke arah utara sampai cukup mencair dan bisa mengapung lagi atau
air pasang tinggi membebaskannya," kata Olson.
Jadi
bagaimana demikian banyak gunung es telah mengambang sampai jauh ke selatan,
sehingga gunung es tersebut bisa berada di jalur pelayaran di sebelah selatan
Newfoundland pada malam itu?
Tim tersebut
menyelidiki spekulasi oleh ahli oseanografi mendiang Fergus Wood bahwa sangat
dekatnya Bulan pada Januari 1912 mungkin telah menimbulkan air pasang naik yang
tinggi, sehingga lebih banyak gunung es daripada biasanya terpisah dari
Greenland. Gunung es itu kemudian mengambang dan masih bertambah besar ke jalur
pelayaran yang telah dipindah ke selatan akibat laporan mengenai gunung es.
Olson
mengatakan, peristiwa "satu kali seumur hidup" terjadi pada 4 Januari
1912, ketika Bulan dan Matahari sedemikian rupa berada di jalur yang membuat
daya tarik mereka saling memperkuat. Demikian laporan Reuters seperti
dikutip ANTARA di Jakarta, Rabu pagi ini.
Pada saat
yang sama, Bulan berada pada jarak paling dekat dengan Bumi pada Januari itu
--paling dekat dalam 1.400 tahun, dan peristiwa paling dekat tersebut terjadi
dalam waktu enam menit Bulan purnama.
Di atas
semua itu, Bumi juga berada pada jarak paling dekat dengan Matahari dalam satu
tahun, sehari sebelumnya. "Konfigurasi ini memaksimalkan kekuatan pasang
naik oleh Bulan di semua samudra Bumi," kata Olson. "Itu luar
biasa."
Penelitian
Olson menetapkan bahwa untuk sampai di jalur pelayaran pada pertengahan April,
gunung es tersebut --yang ditabrak Titanic-- harus terpisah dari Greenland pada
Januari 1912. "Gelombang pasang naik air laut yang disebabkan oleh
gabungan aneh peristiwa astronomi itu mestinya cukup untuk melepaskan gunung es
dan memberinya cukup kemampuan untuk mengapung dan mencapai jalur pelayaran
pada April," katanya.
Tim Olson
telah berusaha menggunakan pola gelombang untuk menetapkan secara pasti kapan
Julius Caesar menyerbu Inggris dan membuktikan legenda bahwa Mary Selley
diilhami oleh cahaya Bulan purnama melalui jendelanya untuk menulis kisah
klasik Frankenstein.
Penelitian
tim tersebut mengenai Titanic mungkin telah mendukung pendapat Kapten Smith
--walaupun terlambat satu abad-- dengan memperlihatkan bahwa ia memiliki alasan
kuat untuk bereaksi sedemikian tenang mengenai laporan tentang es di jalur
pelayaran.
"Ia
(Smith) tak memiliki alasan pada saat itu untuk percaya bahwa bongkahan es yang
ia hadapi sangat banyak dan sangat besar, kata Olson. "Di dalam istilah
astronomi, keanehan dari semua variabel ini adalah, yah,
astronomikal," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar