Bumi
Terbentuk dari Campuran Meteorit
LYON — Bumi ternyata terbentuk dari
beragam jenis meteorit. Inilah hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Science,
Jumat (2/3/2012). Caroline Fitoussi dan Bernard Bourdon dari Ecole Normale
Superieure de Lyon, Perancis, adalah pakar geokimia yang ada di balik studi
tersebut.
Fitoussi dan Bourdon menganalisis isotop silikon pada batuan Bumi dan meteorit. Proses penelitian dilakukan di Swiss Federal Institute of Technology di Zurich, Swiss.
Sebelumnya, dipercaya bahwa Bumi terbentuk dari subkelas meteorit yang disebut enstatite chondrite. Alasannya, batuan Bumi dan meteorit jenis tersebut punya persamaan isotop oksigen, nikel, dan krom.
Dalam penelitian ini, Fitoussi dan Bourdon membandingkan batuan Bumi dengan dua jenis meteorit, yakni enstatite chondrite dan enstatite achondrite, serta batuan Bulan koleksi NASA. Chondrite adalah jenis meteorit yang belum mengalami diferensiasi dari kondisi awalnya. Sementara enstatite chondrite adalah jenis meteorit yang kaya mineral enstatite (MgSiO3).
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa Bumi tidak hanya terbentuk dari material meteorit enstatite chondrite, tetapi juga enstatite achondrite.
"Ini pertama kalinya komposisi isotop dari beragam unsur di enstatite chondrite dan Bumi diobservasi. Hasilnya sangat berbeda dengan hasil observasi sebelumnya," kata Fitoussi.
Analisis isotop silikon juga mengungkap bahwa Bumi dan Bulan memiliki persamaan. Ini memberi petunjuk bahwa material yang membentuk Bulan bercampur dengan material di mantel Bumi sebelum Bulan terbentuk.
"Ini akan memberitahukan pada kita tentang bagaimana Bulan terbentuk dan apa saja batasan-batasannya," jelas Fitoussi seperti dikutip Space, Jumat hari ini.
Fitoussi dan Bourdon menganalisis isotop silikon pada batuan Bumi dan meteorit. Proses penelitian dilakukan di Swiss Federal Institute of Technology di Zurich, Swiss.
Sebelumnya, dipercaya bahwa Bumi terbentuk dari subkelas meteorit yang disebut enstatite chondrite. Alasannya, batuan Bumi dan meteorit jenis tersebut punya persamaan isotop oksigen, nikel, dan krom.
Dalam penelitian ini, Fitoussi dan Bourdon membandingkan batuan Bumi dengan dua jenis meteorit, yakni enstatite chondrite dan enstatite achondrite, serta batuan Bulan koleksi NASA. Chondrite adalah jenis meteorit yang belum mengalami diferensiasi dari kondisi awalnya. Sementara enstatite chondrite adalah jenis meteorit yang kaya mineral enstatite (MgSiO3).
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa Bumi tidak hanya terbentuk dari material meteorit enstatite chondrite, tetapi juga enstatite achondrite.
"Ini pertama kalinya komposisi isotop dari beragam unsur di enstatite chondrite dan Bumi diobservasi. Hasilnya sangat berbeda dengan hasil observasi sebelumnya," kata Fitoussi.
Analisis isotop silikon juga mengungkap bahwa Bumi dan Bulan memiliki persamaan. Ini memberi petunjuk bahwa material yang membentuk Bulan bercampur dengan material di mantel Bumi sebelum Bulan terbentuk.
"Ini akan memberitahukan pada kita tentang bagaimana Bulan terbentuk dan apa saja batasan-batasannya," jelas Fitoussi seperti dikutip Space, Jumat hari ini.
Jaring
Laba-laba Disulap Jadi Dawai Biola
TOKYO - Shigeyoshi Osaki, ilmuwan dari
Nara Medical University, Kashihara, Jepang, menyulap benang jaring laba-laba
menjadi dawai biola. Hasil inovasinya dipublikasikan di jurnal Physical
Review Letters yang akan segera terbit bulan ini.
Untuk
membuatnya, Osaki memanen benang dari 300 ekor laba-laba spesies Nephila
maculata. Ilmuwan merangkai 3000-5000 helai benang untuk membuat satu buntalan
benang yang lebih besar. Tiga buntalan benang kemudian disatukan untuk
membentuk dawai.
Uji kekuatan
kemudian dilakukan untuk memastikan agar dawai yang dihasilkan tak putus ketika
dimainkan. Hasil ujicoba membuktikan bahwa dawai dari jaring laba-laba lebih
kuat dibanding dawai bahan nilon.
Studi
menggunakan mikroskop elektron menunjukkan bahwa selain berbentuk silinder
sempurna, susunan material dawai juga sangat sempurna sehingga tidak menyisakan
rongga. Hal ini mendukung kekuatan dawai dan menciptakan suara yang lebih baik.
"Beberapa
pemain biola profesional mengatakan bahwa dawai dari jaring laba-laba ini
menghasilkan warna nada yang lebih baik, menghasilkan musik yang benar-benar
baru," kata Osaki seperti dikutip situs BBC, Senin (5/3/2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar