Kamis, 19 April 2012

Enjoy with Prudent 19 April 2012 -Melda,Maria,Roman-

Hujan Meteor Lyrid Memuncak Akhir Pekan Ini

Minggu ini adalah saatnya menyusun permohonan karena akan banyak "bintang jatuh". Akhir pekan ini adalah diperkirakan masa puncak hujan meteor Lyrid.
Hujan  Meteor Lyrid akan memuncak pada Sabtu hingga Minggu, 21-22 April 2012. Lyrid bisa diamati tanpa menunggu lewat tengah malam.
"Hujan meteor Lyrid ini hujan meteor yang relatif sore. Jadi, jam 22.00 atau 23.00 sudah bisa diamati," kata Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/4/2012).
Selain itu, lanjut Toha, tahun ini akan lebih mudah diamatai karena Bulan sedang ada dalam fase bulan baru sehingga cahayanya tidak mengganggu pengamatan.
Mutoha mengatakan, ada 20-50 meteor yang bisa disaksikan per jamnya. Jika kondisi cuaca benar-benar bagus, jumlah yang disaksikan bisa mencapai 100 meteor per jam.
Saat jatuh, meteor Lyrid akan bergerak dengan kecepatan 49 km/detik. Situs Spaceweather menyebutkan bahwa beberapa meteor Lyrid mungkin lebih terang dari Venus.
Hujan meteor terjadi saat Bumi melewati area pecahan debu komet ketika mengelilingi Matahari. Ketika kontak dengan atmosfer Bumi, seprihan-serpihan tersebut terbakar dan tampak sebagai meteor.
Induk dari meteor Lyrid adalah komet C/1861 G1 Thatcher atau komet Thatcher. Nama Lyrid berasal dari konstelasi Lyra, tempat meteor ini seolah-olah datang.
Satu syarat untuk bisa melihat hujan meteor adalah tidak mendung dan tidak hujan. Selain itu, langit gelap dibutuhkan untuk pengamatan maksimal.
Untuk melakukan pengamatan, gunakan baju hangat, cari lokasi yang lapang dan relatif lebih gelap. Alat bantu tak dibutuhkan. pengamatan ramai-ramai lebih mengasyikkan.
Jika ternyata hujan atau mendung, tak perlu khawatir. Hujan meteor akan disiarkan secara langsung oleh NASA, tentu saja mengikuti waktu di Amerika serikat.



Antirayap Alami dari Tanaman Indonesia


Pengendalian rayap selama ini dilakukan dengan bahan kimia. Pembasmiannya juga fokus pada perlakuan kayu. Akibatnya, pembasmian rayap kadang mengorbankan serangga lain serta merugikan manusia.

Peneliti dari Balai Litbang Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Sulaeman Yusuf, mengembangkan bahan antirayap alami, ramah lingkungan dan selektif untuk memperbaiki cara pengendalian rayap.

"Bahan ini membasmi khusus rayap, tidak serangga lain. Selama ini dalam pengawetan kayu, kayunya yang diawetkan. Sekarang, serangganya yang kita kendalikan," papar Sulaeman.

Menurut Sulaeman, antirayap yang selektif diperlukan untuk memperkecil efek lingkungan pendendalian rayap. Di samping itu, hanya beberapa jenis rayap saja yang sebenarnya merusak kayu dan bangunan.

Tercatat, jenis rayap yang merusak bangunan adalah Coptotermes gestroi, C. curvignatus, Schedorhitotermes javanicus, Macrotermes gilvus, Microtermes spp. dan Cryptotermes cynocephalus.

Diantara beberapa spesies yang ditemukan di Indonesia, hanya 2 spesies yang menyerang bangunan, yakni Coptotermes gestroi dan C curvignathus. Jenis C. gestroi adalah yang paling ganas.

Untuk mengembangkan bahan antirayap selektif, Sulaeman mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa jenis tanaman dan jamur sudah ditelitinya.

Antirayap alami dipilih karena juga dipandang lebih ramah lingkungan. Bahan kimia antirayap tertentu, seperti aldrin dan chlordan, merugikan kesehatan dan bersifat karsonogenik.

Eksplorasi Sulaeman menunjukkan bahwa alam Indonesia ternyata menyimpan bahan antirayap alami. dari puluhan jenis yang diteliti, ada lima  jenis yang efektif mengendalikan rayap.

Lima jenis tanaman tersebut adalah Bintaro (Carberra adollum dan Carbera manghas), Kecubung (Brugmansia candida), Antiaris toxicaria, Azadirachta nimba atau nimba dan tembakau (Nicotiana tabaccum).

Bahan aktif yang membunuh rayap pada jenis tumbuhan tersebut adalah Azadirachtin pada nimba, Eugenol pada cengkeh, Certerin pada Bintaro dan nikotin pada tembakau. Bahan itu merusak kulit dan lambung rayap.

"Kita akan cari lagi bahan aktifnya sehingga nanti bisa diproduksi," kata Sulaeman yang baru saja dilantik sebagai profesor riset bidang biomaterial pada rabu (18/4/2012).

Menurut Sulaeman, bahan antirayap alami potensial untuk diproduksi. Apalagi, bahan alaminya sendiri tersedia melimpah di alam. "Misalnya bintaro, banyak sekali di pinggir jalan," ujar Sulaeman.

"Nantinya kita mungkin bisa memproduksi pestisida alami yang bebas dalam bentuk spray, seperti obat nyamuk, untuk mengendalikan rayap," pungkas Sulaeman.




Kawah Tumbukan Petunjuk Kehidupan di Mars

 University of Edinburgh Mikroba yang ditemukan di kawah bekas tumbukan asteroid 35 juta tahun yang lalu.
EDINBURGH, KOMPAS.com — Peluang menemukan kehidupan di Mars bisa ditingkatkan dengan meneliti kawah hasil tumbukan asteroid yang ada di Bumi.

Ilmuwan dari University of Edinburgh mengatakan bahwa organisme ditemukan di sebuah kawasan di Amerika Serikat, di mana asteroid menghantam permukaannya 35 juta tahun yang lalu. Mereka percaya bahwa kawah tumbukan memberikan habitat baik bagi mikroorganisme untuk tumbuh.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kawah tumbukan di planet lain juga bisa menyembunyikan kehidupan. Untuk menemukan mikroba tersebut, ilmuwan melakukan pengeboran hingga 2 km di bawah permukaan salah satu kawah tumbukan asteroid terbesar di Bumi, di Chesapeake, AS.

Sampel dari studi menunjukkan bahwa mikroorganisme secara tak terduga menyebar ke permukaan batuan. Ini membuktikan bahwa lingkungan kawah tumbukan terus berkembang sejak 35 juta tahun yang lalu.

Peneliti mengungkapkan bahwa panas yang dihasilkan dari tumbukan mungkin akan membunuh segala makhluk hidup di permukaan kawah. Namun, rekahan dari asteroid menyediakan ruang bagi air dan nutrisi yang mengalir memberi kesempatan berkembangnya makhluk hidup.

Ilmuwan percaya, asterkawah tumbukan memberi perlindungan bagi makhluk hidup dari perubahan iklim, seperti pemanasan global dan zaman es.

Charles Cockell, peneliti University of Edinburgh, mengatakan, "area rekahan di sekeliling kawah tumbukan memberikan tempat perlindungan bagi mikroorganisme sehingga bisa berkembang dalam jangka waktu lama."

"Penemuan kami mengindikasikan bahwa sub-permukaan kawah di Mars mungkin menjadi tempat yang menjanjikan untuk mencari bukti kehidupan," tambah Cockell seperti dikutip BBC, Minggu (15/4/2012).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar