"Secangkir Semangat Sore" Nessa, Yomah, Budi dan Melda (26 April 2012)
Tabung Gas Meledak di
Samping Pom Bensin Kemandoran, 1 Tewas
JAKARTA- Seorang tukang las
tewas akibat tabung gas yang digunakannya untuk mengelas besi meledak. Ledakan
yang terjadi di samping SPBU di jalan Kemandoran, Jakarta Selatan, itu tak
menimbulkan kobaran api.
“Kejadiannya baru saja, seorang tewas. Laporan yang masuk tabung gas tersebut
berada di samping pom bensin. Tapi bukan di pom bensinnya. Ledakan itu tak
menimbulkan kobaran api,” kata petugas jaga suku dinas pemadam kebakaran
Jakarta Selatan, Djoko kepada okezone, Kamis (27/4/2012).
Djoko mengatakan, berdasarkan laporan tersebut tukang las tersebut tewas. “Kami
menerjunkan empat mobil pemadam kebakaran meski tak ada kobaran api,” kata
Djoko.
Sementara itu, dari pantauan di lokasi, kejadian tersebut menyebabkan kemacetan
di jalan Kemandoran. Banyak warga yang ingin mengetahui kejadian ledakan
tersebut.
Desa "Eco Ideas"
Ajak Desa Hemat Energi
JAKARTA,
KOMPAS.com - Panasonic
mengajak masyarakat untuk hemat energi dan mengurangi emisi CO2 lewat program
Corporate Social Responsibility Desa "Eco Ideas".
"Kami bersama Electronic City menyumbangkan 1.000 bohlam ke desa Warung
Kadu, Purwakarta kepada 651 kepala keluarga, dimana 1 kepala keluarga akan
menerima 3 bohlam,” ujar Ronny Heribertus, Product Manager Air Conditioner
Panasonic Gobel Indonesia, Selasa (24/4/2012) kemarin.
Bohlam yang didonasikan merupakan tipe eco spiral dan berdaya 11 Watt. Cahaya
yang dihasilkan bohlam setara dengan lampu biasa berdaya 60 Watt. Bohlam tipe
eco spiral mampu menghemat listrik hingga 80 persen, bisa bertahan 10.000 jam
dan mampu menghemat 72KWh per tahun.
Lewat kerjasama dengan Electronic City, Panasonic mengajak masyarakat
berpartisipasi dalam program CSR ini. Dengan membeli AC Inverter Econavi di
Electronic City, pembeli secara otomatis sudah menyumbangkan 3 bohlam kepada 1
keluarga di desa tujuan program CSR.
Pembelian AC inverter sendiri digenjot sebab jenis pendingin ruangan ini lebih
hemat energi. Inverter Econavi dilengkapi dengan Sunlight Detection dan
Activity Detection yang mampu mendeteksi cuaca luar dan bisa mengatur pendinginan.
Ronny mengatakan, dengan program Desa "Eco Ideas", diharapkan
masyarakat desa ke depan bisa mengubah pola konsumsi dari membeli bohlam biasa
menjadi bohlam hemat energi.
Bola Misterius di Cincin
Saturnus
VIENNA,
KOMPAS.com - Wahana
antariksa Cassini berhasil menangkap citra bola misterius di cincin planet Saturnus.
Bola misterius berukuran hampir 1 km itu seolah bergerak masuk dalam cincin
Saturnus, meninggalkan ekor yang bercahaya di belakangnya.
Citra hasil tangkapan Cassini ini dipresentasikan dalam pertemuan European
Geosciences Union (GEU) di Vienna, Austria. Carl Murray yang merupakan anggota
tim Cassini dari Queen Mary University of London di Inggris adalah peneliti
yang mempresentasikan hal ini.
Bola misterius atau yang sebenarnya bola es ditangkap di cincin F planet
Saturnus. Cincin F merupakan bagian terluar dari cincin Saturnus. Lokasi cincin
ini 3000 km dari cincin A. Sementara, keliling cincin F sekitar 900.000 km.
Ilmuwan mengatakan bahwa terbentuknya bola salju tak lepas dari peranan
Prometheus, bulan Saturnus selebar 40 km. Gravitasi Prometheus berakibat pada
pembentukan gumpalan es. Diasumsikan juga bahwa pasang surut pengaruh gravitasi
menyebabkan gumpalan es bisa pecah.
"Kami mengetahui bahwa Prometheus, selain mampu memproduksi pola reguler,
juga mampu memproduksi konsentrasi material di cincin Saturnus. Kami hanya
menyebutnya bola salju raksasa," ungkap Murray seperti dikutip BBC pada
Selasa (24/4/2012).
"Dan jika ini bisa survive, karena Prometheus akan kembali ke titik yang
sama di cincin F dan berinteraksi lagi, bola salju bisa tumbuh, dan bisa saja
membentuk moonlet yang menabrak bagian inti dari cincin F," terang Murray.
Temuan bola raksasa ini adalah keberuntungan. Murray sedang mengamati
Prometheus ketika akhirnya melihat ekor bercahaya yang tak mungkin berasal dari
Prometheus itu sendiri. membingkar kembali arsip 20.000 citra, peneliti
menemukan 500 citra serupa.
Murray mengungkapkan, bola raksasa ini menumbuk cincin F dengan kecepatan
rendah, sekitar 2 meter per detik. Sementara itu, bola raksasa juga
menghasilkan ekor bercahaya disebut jet yang panjangnya mencapai 40 - 180
kilometer.
Fenomena di cincin Saturnus menarik perhatian para ilmuwan. Cincin Saturnus
sendiri bisa menjadi model untuk mempelajari pembentukan Tata Surya. Beberapa
fenomena di cincin Saturnus mungkin bisa memberi petunjuk tentang apa yang
terjadi di tata surya 4,5 miliar tahun lalu.
Cassini adalah proyek kerjasama antara badan antariksa Amerika serikat, Eropa
dan Italia. Cassini mulai memasuki orbit Saturnus pada tahun 2004.
Direncanakan, misi Cassini akan berakhir tahun 2017, dimana Cassini akan 'bunuh
diri' di atmosfer Saturnus.
Mempelajari Perilaku
Tsunami
Suara alarm
berbunyi keras. Dari kejauhan terdengar gemuruh suara air makin dekat.
Gelombang kian tinggi dan mengempas rumah-rumahan dari kayu dan beton. Simulasi
gelombang tsunami di laboratorium milik Institut Penelitian Pelabuhan dan
Bandara Jepang itu membuat bulu kuduk berdiri.
Para
peneliti kebencanaan Jepang meyakini prediksi bahwa tsunami, yang dalam bahasa
Jepang berarti ”gelombang pelabuhan”, hanya akan datang di satu lokasi yang
sama setiap 100 tahun sekali. Meski demikian, serangkaian penelitian dan
simulasi dampak tsunami tetap rutin dilakukan dengan mempelajari karakter
tsunami yang terjadi di berbagai negara.
Setelah
gempa berkekuatan 9 skala Richter dan tsunami yang menewaskan lebih dari 15.800
orang pada 11 Maret 2011, penelitian dan simulasi itu kian intensif.
Simulasi-simulasi
khusus untuk mempelajari gelombang, terutama tsunami, dilakukan di salah satu
laboratorium simulasi terbesar di Jepang itu. Di dalamnya ada tiga fasilitas
simulasi gelombang berteknologi tinggi, yakni large hydro geo flume, wide-deep
hybrid wave flume, dan 3D underwater shaking table.
Dalam
fasilitas large hydro geo flume, misalnya, dibangun kanal air sepanjang 184
meter, lebar 3,5 meter, dan kedalaman 12 meter yang bisa membentuk gelombang
besar dengan kecepatan angin 3,5 meter per detik dan ekuivalen tsunami hingga
maksimum 2,5 meter per detik. Dengan fasilitas itu, para peneliti berharap
mampu mengantisipasi dan menekan risiko bencana akibat tsunami, topan, dan
gelombang pasang.
Untuk
memahami mekanisme gelombang pasang, simulasi dilakukan dengan wide-deep hybrid
wave flume. Di dalam ruang simulasi, terhampar kolam air berwarna hijau seluas
kolam renang kelas olimpiade dengan alat pencipta gelombang di dua sisi kolam.
Gerak lempengan alat pencipta gelombang diatur komputer sehingga kita bisa
menciptakan gelombang dan melihat perubahan arah dan pola gelombang.
”Dengan memahami
pergerakan gelombang, karakter tsunami bisa dipahami. Masyarakat harus tahu ini
agar memiliki gambaran apa yang akan terjadi jika tsunami menerjang,” kata
Presiden Institut Penelitian Pelabuhan dan Bandara (Port and Airport Research
Institute/ PARI) Shigeo Takahashi.
Fokus
simulasi
Belajar dari
pengalaman tsunami yang menerjang wilayah pantai timur tahun lalu, kini PARI
fokus untuk melakukan simulasi dengan ketinggian gelombang 10-20 meter. Tinggi
tsunami tahun lalu lebih dari 20 meter dan tinggi gelombang yang naik ke
daratan (run-up) tsunami 40,5 meter. Teknologi mitigasi bencana, terutama
tsunami, terus berkembang, belajar dari satu tsunami ke tsunami lain.
Satu-satunya
catatan yang rinci atau referensi sejarah tsunami di Jepang, kata Takahashi,
ditemukan dalam laporan tentang tsunami Showa Sanriku (3 Maret 1933) yang
dibuat Institut Penelitian Gempa Universitas Tokyo. Dalam hal ini, gempa
berkekuatan 8,1 magnitudo yang menghasilkan run-up tsunami hingga 28 meter itu
menewaskan 3.054 orang. Sebelumnya, disebut-sebut pernah ada tsunami
Meiji-Sanriku tahun 1896. Tsunami datang 35 menit setelah guncangan gempa
berkekuatan 8,5 magnitudo dan mengakibatkan 22.000 orang tewas.
Setelah
gempa 8,5 magnitudo dan tsunami di Cile tahun 1960 yang menewaskan 139 orang,
Jepang memulai penelitian dan simulasi antisipasi tsunami yang terintegrasi.
Dibangunlah laboratorium tsunami. Penelitian dan bentuk simulasi kian
berkembang dengan serangkaian tsunami, seperti tsunami Nihonkai-Chubu tahun
1983 (gempa 7,7 magnitudo, menewaskan 100 orang), dan tsunami
Hokkaido-Nanseioki tahun 1993 (gempa 7,8 magnitudo, menewaskan 200 orang).
”Kita harus
tahu dampak tsunami untuk bisa mempersiapkan diri. Mitigasi bencana dimulai
dari pengetahuan dan pemahaman bencana. Pelajaran yang kami peroleh, tsunami
setinggi lebih dari 10 meter bisa menghancurkan kota, termasuk segala macam
sistem pertahanan tsunami kami,” kata Takahashi.
Meski
tsunami bisa diprediksi dan diperkirakan kekuatannya, menurut peneliti di
Departemen Penelitian Bencana Sosial di Institut Penelitian Nasional untuk Ilmu
Bumi dan Antisipasi Bencana (NIED) Ken Xiansheng Hao, kekuatan tsunami tahun
lalu sama sekali tidak terduga. ”Tak ada yang mengira tsunami akan sedahsyat
itu. Jauh melebihi dari perkiraan dan desain mitigasi bencana kami,” ujarnya.
Teknologi
Simulasi di
dalam laboratorium belumlah cukup untuk mempelajari tsunami. Bekerja sama
dengan Badan Meteorologi Jepang, PARI memasang pengukur ketinggian gelombang
dan tsunami (GPS buoy) dengan berbagai ukuran hingga yang terbesar setinggi
gedung tiga lantai. Jarak bibir pantai dan GPS buoy sejauh 10-20 kilometer.
Untuk wilayah Tohoku saja, terpasang tujuh GPS buoy. Ada total 12 GPS buoy di
sepanjang pantai timur Jepang. Ketika tsunami tahun lalu, GPS buoy di daerah
Central Iwate mencatat ketinggian tsunami hingga 6,7 meter. GPS buoy lalu
mengirimkan data observasi itu ke pusat data melalui satelit.
”GPS buoy
ini bagian dari sistem peringatan dini dengan prediksi real-time. Berbekal
informasi itu, Badan Meteorologi mengeluarkan peringatan tsunami dengan
ketinggian lebih dari 10 meter,” kata peneliti di PARI, Kenichiro Shimosako.
Untuk
mendukung GPS buoy, Direktur Social System Research Department dan Outreach and
International Research Promotion Center di NIED Toshiyuki Hashimoto mengatakan,
NIED telah memasang 2.000 unit sensor seismograf di berbagai lokasi di Jepang.
Masing-masing terdiri dari 800 unit high sensitivity seismograf, 1.000 unit
strong motion seismograf, dan 70 unit broadband seismograf. Jumlah broadband
seismograf lebih sedikit karena harga yang mahal.
”Data
seismograf itu kemudian kami informasikan segera ke pusat agar segera ada
tindakan. Jika gempanya besar, akan ada peringatan dini dan perintah evakuasi.
Tahun lalu banyak korban jatuh akibat tsunami, bukan gempa. Informasi akurat
dan cepat amat penting untuk meminimalkan jumlah korban,” kata Hashimoto.
Gerak Robot ini
Dikendalikan dengan Pikiran Manusia
BERN - Mungkinkah mengendalikan robot
menggunakan pikiran? hal ini ternyata tidak mustahil dilakukan. Pasalnya,
Ilmuwan dari Federal Polytechnic School of Lausanne asal Swiss telah
menciptakan robot dengan teknologi canggih yang dapat dikendalikan menggunakan
pikiran manusia.
Dilansir Telegraph, Kamis (26/4/2012), dengan mengenakan topi elektroda,
robot dapat dikontrol melalui gelombang otak. Untuk pertama kali sistem kendali
robot tersebut didemonstrasikan oleh orang yang mengalami kelumpuhan. Dengan
menggunakan kursi roda, ia menguji robot itu di sebuah rumah sakit.
Sistem ini dikembangkan oleh Jose Millan, seorang profesor dari Federal
Polytechnic School of Lausanne. Ia memiliki spesialisasi pada bidang non-invasive
interfaces antara mesin dan otak manusia.
"Setelah gerakan ini dimulai, otak dapat bersantai. Jika tidak, dia bisa
kelelahan. Teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menggerakkan kursi
roda," ujar Millan.
Menurutnya, teknologi ini memiliki keterbatasan yaitu sinyal otak akan teracak
jika terlalu banyak orang yang berkumpul di sekitar penguji. Millan juga
mengatakan, sistem kendali robot ini tidak hanya digunakan untuk menggerakan
kursi roda, tetapi juga bisa membantu pasien memulihkan indera perasanya (sense).
Sementara itu, penelitian yang diusung Stephanie Lacour dan timnya kini sedang
menggarap electric skin untuk seseorang yang tidak memiliki tangan.
Perangkat berbentuk sarung tangan ini dilengkapi sensor kecil yang akan
mengirimkan informasi langsung ke sistem saraf pengguna.
Pada akhirnya, menurut Lacour, dengan electric skin tersebut, peneliti
berharap bisa membuat prostetik mekanik. Alat ini tidak hanya mobile tetapi
juga sensitif layaknya tangan alami.
Penelitian lain yang coba dikembangkan ilmuwan di Federal Polytechnic School of
Lausanne mengerjakan proyek yang memungkinkan para penderita paraplegics (lumpuh)
bisa berjalan normal. Penelitian ini dilakukan menggunakan implan sistem
elektroda yang ditanam di tulang belakang.
"Tujuannya agar setelah satu tahun pelatihan dengan menggunakan sistem
robot ini, pasien bisa berjalan kembali tanpa perlu bantuan robot. Sistem
elektroda ini akan tertanam dan hidup secara implan," terang Gregoire
Courtine, salah satu ilmuwan yang mengembangkan teknologi tersebut. (fmh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar