Jangan
Lagi Tergantung pada Energi Fosil
CADANGAN minyak Indonesia makin menipis. Jika tidak ditemukan
cadangan baru, dipastikan cadangan minyak Indonesia akan habis dalam kurun
waktu 12 tahun ke depan. Hal itu juga dengan asumsi tingkat produksi minyak
menyentuh 900.000 barel per hari.
Tidak hanya itu, cadangan gas yang mencapai 107 triliun standard kaki kubik diperkirakan akan habis hingga 40 tahun ke depan. Tentu saja angka-angka ini perlu dijadikan warning bahwa sumber energi fosil bakalan terkuras habis dalam hitungan waktu yang tidak lama lagi.
Sudah sepantasnya pemerintah dan juga masyarakat menyadari potensi bahwa Indonesia akan menjadi negara yang makin tergantung sumber energinya dengan produsen di luar negeri. Tidak ada salahnya sedari sekarang mulai dikembangkan energi alternatif. Sumber energi lain seperti panas bumi, matahari, bahan bakar nabati, angin, dan air perlu terus digali serta dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.
Negeri ini boleh dibilang sangat boros dalam penggunaan BBM sebagai sumber utama energi. Padahal, jika ditelisik dari segi cadangan maupun harga, sudah barang tentu sangat mahal. Tak heran jika justru banyak perusahaan menjadi tidak efisien karena masih sangat mengandal sumber energi minyak ini.
Kiranya patut dicontoh langkah yang diambil oleh mantan Dirut PLN Dahlan Iskan yang dalam setiap CEO Noted-nya kepada jajaran direksi dan karyawan PLN selalu mendengungkan efisiensi ini dengan mencanangkan musuh bersama PLN adalah BBM. Pasalnya, masih banyak sekali pembangkit listrik PLN yang menggunakan diesel, yang sudah pasti membutuhkan sangat banyak BBM untuk mengoperasikannya.
Dahlan Iskan pun sudah meminta jajaran PLN berganti menggunakan sumber energi lain, menyesuaikan dengan sumber energi terdekat baik itu gas, batubara, air, panas bumi, bahkan energi matahari.
Jika saja kesadaran akan menipisnya energi fosil ini disadari oleh seluruh stakeholder, maka kiranya program penghematan BBM, program pembatasan BBM, program konversi energi dari BBM ke energi terbarukan, bahkan program penelitian dan pengembangan energi alternatif --tidak terkecuali energi nuklir, akan mendapatkan prioritas dari sekarang.
Seandainya kesadaran ini telat, maka sudah dipastikan generasi mendatanglah yang akan menanggung akibatnya. Krisis energi bisa saja akan dialami oleh Indonesia yang kini sedang mendapatkan gain berupa Demography Dividen, karena angka tenaga kerja produktifnya lebih banyak dibandingkan kelompok usia tidak produktif.
Langkah ini memang bukan semata tugas pemerintah. Masyarakat, tidak terkecuali kalangan kampus, juga dituntut terus melakukan penelitian, pengembangan, dan invoasi, menemukan sumber energi alternatif. Maka, kabar sejumlah kampus sudah berhasil mengembangkan mobil listrik, seakan menjadi embun penyejuk di tengah dahaga dan kekhawatiran bahwa dalam waktu singkat negeri ini akan kehabisan cadangan gas dan minyak buminya.
Tidak hanya itu, cadangan gas yang mencapai 107 triliun standard kaki kubik diperkirakan akan habis hingga 40 tahun ke depan. Tentu saja angka-angka ini perlu dijadikan warning bahwa sumber energi fosil bakalan terkuras habis dalam hitungan waktu yang tidak lama lagi.
Sudah sepantasnya pemerintah dan juga masyarakat menyadari potensi bahwa Indonesia akan menjadi negara yang makin tergantung sumber energinya dengan produsen di luar negeri. Tidak ada salahnya sedari sekarang mulai dikembangkan energi alternatif. Sumber energi lain seperti panas bumi, matahari, bahan bakar nabati, angin, dan air perlu terus digali serta dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.
Negeri ini boleh dibilang sangat boros dalam penggunaan BBM sebagai sumber utama energi. Padahal, jika ditelisik dari segi cadangan maupun harga, sudah barang tentu sangat mahal. Tak heran jika justru banyak perusahaan menjadi tidak efisien karena masih sangat mengandal sumber energi minyak ini.
Kiranya patut dicontoh langkah yang diambil oleh mantan Dirut PLN Dahlan Iskan yang dalam setiap CEO Noted-nya kepada jajaran direksi dan karyawan PLN selalu mendengungkan efisiensi ini dengan mencanangkan musuh bersama PLN adalah BBM. Pasalnya, masih banyak sekali pembangkit listrik PLN yang menggunakan diesel, yang sudah pasti membutuhkan sangat banyak BBM untuk mengoperasikannya.
Dahlan Iskan pun sudah meminta jajaran PLN berganti menggunakan sumber energi lain, menyesuaikan dengan sumber energi terdekat baik itu gas, batubara, air, panas bumi, bahkan energi matahari.
Jika saja kesadaran akan menipisnya energi fosil ini disadari oleh seluruh stakeholder, maka kiranya program penghematan BBM, program pembatasan BBM, program konversi energi dari BBM ke energi terbarukan, bahkan program penelitian dan pengembangan energi alternatif --tidak terkecuali energi nuklir, akan mendapatkan prioritas dari sekarang.
Seandainya kesadaran ini telat, maka sudah dipastikan generasi mendatanglah yang akan menanggung akibatnya. Krisis energi bisa saja akan dialami oleh Indonesia yang kini sedang mendapatkan gain berupa Demography Dividen, karena angka tenaga kerja produktifnya lebih banyak dibandingkan kelompok usia tidak produktif.
Langkah ini memang bukan semata tugas pemerintah. Masyarakat, tidak terkecuali kalangan kampus, juga dituntut terus melakukan penelitian, pengembangan, dan invoasi, menemukan sumber energi alternatif. Maka, kabar sejumlah kampus sudah berhasil mengembangkan mobil listrik, seakan menjadi embun penyejuk di tengah dahaga dan kekhawatiran bahwa dalam waktu singkat negeri ini akan kehabisan cadangan gas dan minyak buminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar