Selasa, 17 April 2012


Laut Mati Pernah Hampir Kering 100.000 Tahun Lalu

Tim peneliti dari menemukan bahwa Laut Mati pernah hampir mengering dalam periode 100.000 tahun yang lalu.

Tim pimpinan Zvi Ben-Avraham dari Minerva Dead Sea Research Center TAU dan Mordechai Stein dari Geological Survey of Israel tersebut mengebor sampai 460 meter di bawah dasar laut dan mengekstrak sedimen dalam rentang waktu 200.000 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa air di Laut Mati mengalami peningkatan dan penurunan dalam 200.000 tahun terakhir.

Lapisan garam menandai beberapa periode kekeringan dan curah hujan yang sangat sedikit, menyebabkan air surut dan garam menumpul di bagian tengah Laut Mati.

Peneliti juga menemukan bahwa pada masa 120.000 tahun lalu, Laut Mati hampir mengering seluruhnya. Periode kering ekstrim setelahnya adalah pada masa 13.000 tahun lalu.

Saat ini, jumlah air di Laut Mati juga terus menurun. Ben-Avraham mengatakan bahwa sebab penurunan saat ini berbeda dengan di masa lalu, lebih banyak dipengaruhi faktor manusia.

"Apa yang kita lihat di Timur Tengah adalah sesuatu yang mirip periode kering yang cukup parah, tapi ini bukan diakibatkan iklim, ini fenomena yang disebabkan manusia," jelas Ben-Avraham seperti dikutip Physorg,
Kekeringan saat ini lebih dipacu oleh banyaknya pengambilan air sungai untuk irigasi oleh manusia. Akibatnya, jumlah air yang mencapai Laut Mati lebih sedikit.
Pesawat Kertas Raksasa Berhasil Terbang
Description: http://assets.kompas.com/data/photo/2012/03/28/1547093620X310.jpg 
The Great Paper Airplane Project" yang diadakan oleh Pima Air Space and Space Museum di Tucson, Arizona, AS, berhasil menerbangkan pesawat kertas raksasa.
Pesawat berhasil terbang pada lalu setelah dibawa oleh helikopter hingga ketinggian 824 meter kemudian diluncurkan. Pesawat terbang selama 7-10 detik dengan kecepatan mencapai 160 km per jam.
Pesawat kertas yang diterbangkan memiliki berat 363 kg dengan panjang 13,7 meter dan lebar sayap 7,3 meter. Keberhasilan penerbangan adalah tujuan proyek untuk menarik minat pelajar pada sains dan rekayasa.
Diberitakan Physorg, pesawat kertas raksasa yang berhasil diterbangkan diberi nama Arturo's Desert Eagle. Nama diambil dari nama desainernya, Arturo Valdenegro, yang masih seorang siswa kelas VII di Santa Cruz Catholic School.
Pada bulan Januari lalu, Valdenegro memenangkan penghargaan karena bisa membuat pesawat kertas yang bisa terbang hingga ketinggian 22 meter.
Setelah memenangkan penghargaan, Valdenegro terbang ke Los Angeles untuk bekerja sama dengan Art Thompson, insinyur yang terlibat desain B-2 Stealth, untuk membuat Arturo's Desert Eagle.
Arturo's Desert Eagle berhasil terbang pada percobaan kedua. Pada percobaan sebelumnya, pesawat kertas raksasa menabrak dan sayapnya terlipat.
Kawah Tumbukan Petunjuk Kehidupan di Mars

Peluang menemukan kehidupan di Mars bisa ditingkatkan dengan meneliti kawah hasil tumbukan asteroid yang ada di Bumi.

Ilmuwan dari University of Edinburgh mengatakan bahwa organisme ditemukan di sebuah kawasan di Amerika Serikat, di mana asteroid menghantam permukaannya 35 juta tahun yang lalu. Mereka percaya bahwa kawah tumbukan memberikan habitat baik bagi mikroorganisme untuk tumbuh.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kawah tumbukan di planet lain juga bisa menyembunyikan kehidupan. Untuk menemukan mikroba tersebut, ilmuwan melakukan pengeboran hingga 2 km di bawah permukaan salah satu kawah tumbukan asteroid terbesar di Bumi, di Chesapeake, AS.

Sampel dari studi menunjukkan bahwa mikroorganisme secara tak terduga menyebar ke permukaan batuan. Ini membuktikan bahwa lingkungan kawah tumbukan terus berkembang sejak 35 juta tahun yang lalu.

Peneliti mengungkapkan bahwa panas yang dihasilkan dari tumbukan mungkin akan membunuh segala makhluk hidup di permukaan kawah. Namun, rekahan dari asteroid menyediakan ruang bagi air dan nutrisi yang mengalir memberi kesempatan berkembangnya makhluk hidup.

Ilmuwan percaya, asterkawah tumbukan memberi perlindungan bagi makhluk hidup dari perubahan iklim, seperti pemanasan global dan zaman es.

Charles Cockell, peneliti University of Edinburgh, mengatakan, "area rekahan di sekeliling kawah tumbukan memberikan tempat perlindungan bagi mikroorganisme sehingga bisa berkembang dalam jangka waktu lama."

"Penemuan kami mengindikasikan bahwa sub-permukaan kawah di Mars mungkin menjadi tempat yang menjanjikan untuk mencari bukti kehidupan," tambah
Pertama, Aurora Terlihat di Uranus

Untuk pertama kalinya, astronom berhasil menangkap citra aurora di atmosfer Uranus. Citra aurora itu ditangkap dengan teleskop antariksa Hubble pada tahun 2011.
Laurent Lamy, astronom dari Observatoire de Paris di Meudon, Perancis, mengatakan terakhir kali sinyal adanya aurora di Uranus adalah ketika wahana Voyager 2 NASA mengitari Uranus tahun 1986.
"Tapi ini pertama kali kami bisa benar-benar melihat cahaya itu bersinar dengan teleskop yang berbasis di Bumi," kata Lamy seperti dikutip National Geographic, Jumat (13/4/2012).
Aurora adalah cahaya yang biasa terlihat di lintang tinggi Bumi, Jupiter dan Saturnus. Aurora terbentuk ketika badai Matahari mencapai suatu planet dan beribnteraksi dengan magnetosfer planet tersebut.
Aurora terjadi di kutub sebuah planet. Ketika partikel bermuatan berinteraksi dengan medan magent, maka partikel itu akan dilemparkan ke atmosfer. Di sana, partikel bermuatan bertumbukan dengan udara sehingga membentuk cahaya.
Astronom telah mencoba mendeteksi adanya aurora di Uranus pada tahun 1998 dan 2005, namun gagal.
Pada bulan September tahun 2011, Larry dan timnya mempelajari badai matahari yang menuju Uranus, planet yang kurang lebih berjarak 4 muiliar kilometer dari Bumi. Ilmuwan sengaja merancang agar pengamatan dengan teleskop Hubble bersamaan dengan badai Matahari. 6 Minggu berikutnya, tim ilmuwan berhasil mengamati aurora Uranus.
"Kami sangat beruntung bisa menangkap kilatan cahaya yang redup ini," kata Lamy.
Astronom mengungkapkan, aurora Uranus memiliki keunikan. Hal ini berkaitan dengan oroentasi planet tersebut.
Tak seperti 7 planet lainnya, sumbu magnetik Uranus 60 derajat dari axis putarannya. Sementara, sumbu putarannya 98 derajat secara relatif terhadap orientasi sistem orbit Tata Surya. Dengan kata lain, Uranus seperti berputar dengan poros bagian sampingnya.
Aurora di Uranus punya umur sangat singkat. Menurut Lamy, ini berkaitan dengan perbedaan orientasi datangnya partikel bermuatan dari matahari dan medan magnet planet yang tak biasa.
"Aurora ini menawarkan kunci lokasi pasti axis magnetik, yang nantinya mengijinkan kita untuk mengetahui bagian mana dari magnetosfer yang aktif," papar Lamy.
"Tak ada keraguan bahwa Uranus adalah planet yang misterius. Kita hanya belum tahu terlalu banyak tentang planet itu, terutama magnetosfernya, tapi pelan-pelan kita akan menguak rahasianya," tambah Lamy.
Lamy mengungkapkan perlunya mengobservasi Uranus lebih lanjut. Hasil observasi Lamy dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar