Tokek Kumbang Ditemukan di Papua Niugini
Spesies baru
tokek dengan corak warna kulit hitam dan emas layaknya kumbang ditemukan di
Papua Niugini. Tokek tersebut berukuran 13 sentimeter dan ditutupi nodul
kulit yang memudahkannya bersembunyi di lantai hutan.
Spesimen tokek ini pertama kali dikoleksi pada Maret 2010 di Pulau Manus. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Zootaxa bulan ini.
"Kami secara resmi menamainya Nactus kunan, didasarkan pada pola warnanya. Kunan berarti kumbang dalam bahasa lokal, bahasa Nali," kata Robert Fisher dari USGS Western Ecological Research Group.
"Spesies ini masuk dalam genus tokek berjari kaki langsing, berarti spesies ini tak memiliki jari kaki yang serupa bantalan dan berguna untuk memanjat tebing seperti umumnya tokek," lanjut Fisher seperti dikutip Reuters,
Spesimen tokek ini pertama kali dikoleksi pada Maret 2010 di Pulau Manus. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Zootaxa bulan ini.
"Kami secara resmi menamainya Nactus kunan, didasarkan pada pola warnanya. Kunan berarti kumbang dalam bahasa lokal, bahasa Nali," kata Robert Fisher dari USGS Western Ecological Research Group.
"Spesies ini masuk dalam genus tokek berjari kaki langsing, berarti spesies ini tak memiliki jari kaki yang serupa bantalan dan berguna untuk memanjat tebing seperti umumnya tokek," lanjut Fisher seperti dikutip Reuters,
Tokek ini
ditemukan setelah analisis genetik dilakukan. Bersama penemuan spesies ini
ditemukan pula dua spesies tokek lain. "Spesies ini memberi kejutan. Saya
telah mempelajari genus ini sejak tahun 1970-an dan tak memperkirakan akan
menemukan spesies ini," kata George Zug, pakar reptil dari Smithsonian
Institution yang menjadi co-author riset ini.
Accor Indonesia Menanam 10.000 Pohon
Melalui
program Planet 21 Day 2012, Accor Indonesia berkomitmen menanam 10.000 pohon di
seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini, Accor Indonesia juga mengikutsertakan
karyawannya.
Director of
Human Resources Accor Malaysia-Indonesia-Singapura, Ade Noerwenda mengemukakan,
sejak tahun 2007 para karyawan Accor selalu merayakan Hari Bumi dengan
melaksanakan program sosial kemasyarakatan di bidang lingkungan.
Mulai tahun
ini, dengan diluncurkannya inisiatif Planet 21, pelaksanaan sosial
kemasyarakatan di bidang lingkungan tersebut akan dilakukan setiap 21 April dan
Earth Guest Day berubah nama menjadi Planet 21 Day. "Tujuan utamanya sama,
untuk menggalang kontribusi aktif karyawan melaksanakan komitmen Planet 21,
dengan dukungan dari pelanggan dan mitra Accor, agar dampaknya
berkelanjutan," tutur Ade
Program
penanaman pohon adalah bagian dari sebuah program menyeluruh terkait lingkungan
hidup dan sosial kemasyarakatan, serta menempatkan program sosial berkelanjutan
sebagai bagian penting dari strategi bisnis Accor di seluruh dunia, yaitu
Planet 21. Inisiatif ini baru saja diperkenalkan kepada masyarakat luas pada
pertengahan April 2012.
Dengan
Planet 21, Accor menegaskan 21 komitmen dan tujuan untuk dicapai tahun 2015.
Komitmen tersebut diwujudkan antara lain melalui program pelatihan karyawan
dalam pencegahan penyakit di 95 persen hotel di seluruh jaringan Accor,
sosialisasi program menu berimbang di 80 persen hotel jaringan Accor,
penggunaan produk-produk eco-labelled di 85 persen hotel jaringan Accor,
penghematan air sebesar 15 persen, serta penghematan energi sebesar 10 persen
di hotel-hotel jaringan Accor di seluruh dunia.
Planet 21
mengacu langsung kepada Agenda 21, sebuah rencana aksi bidang lingkungan yang
ditandatangani oleh 173 kepala negara pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth
Summit) di Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1992. Agenda 21 mengingatkan semua
orang pada masalah penting yang dihadapi planet Bumi pada abad 21 serta
keinginan untuk mengubah metode produksi dan cara manusia bekerja untuk
menjaga kelangsungan hidup Bumi.
Terkait dengan
inisiatif penghijauan hutan kembali, sejak tahun 2008 Accor telah menanam lebih
dari dua juta pohon di seluruh dunia. Kegiatan itu didanai melalui program
penghematan biaya laundry yang inovatif dan melibatkan pihak hotel
maupun para tamu.
Di Indonesia,
Accor dan Perhutani memelopori Program Pengelolaan Hutan sejak tahun 2007.
Hingga akhir tahun 2011, Accor berhasil menghijaukan kembali lahan seluas lebih
dari 78 hektar di Jawa Tengah, menanam lebih dari 100.000 pohon dan membuka
lapangan pekerjaan bagi lebih dari 150 petani setempat.
Terumbu Karang Perairan Komodo Terancam
Kawasan
perairan kaya terumbu karang yang masuk di wilayah Taman Nasional Komodo
terancam. Kantor berita AP, melaporkan bahwa aktivitas nelayan ilegal
yang menangkap ikan dengan bahan peledak menghancurkan terumbu karang yang ada.
AP yang memawancarai operator selam dan pegiat lingkungan melaporkan bahwa pemerintah Indonesia tidak melakukan perlindungan yang cukup bagi wilayah yang dikenal dengan kadal raksasa Komodo itu.
Michael Ishak, instruktur scuba dan fotografer bawah laut profesional yang telah berkunjung ke perairan ini ratusan kali mengatakan bahwa jumlah nelayan ilegal pada tahun ini lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ishak yang kembali ke perairan ini bulan lalu menuju tempat favoritnya, Tatawa Besar, menjumpai fakta bahwa terumbu karang seluas 500 meter persegi lenyap. Padahal, wilayah itu menyimpan keragaman hayati yang tinggi. Banyak juga wilayah kecil-kecil lain yang dihancurkan.
"Pertama, saya pikir, ini tak benar. Saya pasti berada di tempat yang salah," kata Ishak yang sampai harus memastikan berkali-kali bahwa ia memang mengamati wilayah yang biasa diselami sebelumnya.
"Tapi ternyata itu benar. Semua koral keras baru saja diledakkan, hancur, berjatuhan. Beberapa diantaranya masih hidup. Saya tak pernah melihat ini sebelumnya," ungkap Ishak seperti dikutip AP, Jumat.
Wilayah perairan yang kaya terumbu karang itu seharusnya dilindungi. Namun, banyak nelayan yang datang untuk berburu ikan seperti kerapu dan kakap. nelayan datang dengan perahu kecil dengan jaring. beberapa lainnya menggunakan "peledak" campuran minyak tanah dan pupuk di botol bir.
Bernafas dengan tabung yang dihubungkan pada kompresor di permukaan, nelayan muda biasanya menyelam ke lautan untuk menyemprotkan sianida, kemudian menyetrum dan menangkap ikan yang ada di terumbu karang.
Jos Pet, ilmuwan perikanan yang berpengalaman bekerjasama dengan pegiat konservasi mengatakan, "Masalah terbesar adalah nelayan bebas menuju Komodo, mengabaikan zonasi dan peraturan tentang pengambilan sumber daya. Mudah mencari ikan di wilayah warisan dunia ini."
Sementara, memberikan tanggapan, Sustyo Iriyono dari Taman nasional Komodo mengatakan bahwa masalah yang ada terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menampik klaim longgarnya pengawasan atau penegakan hukum.
Iriyono menuturkan, penjaga sudah menahan 60 nelayan ilegal selama 2 tahun terakhir, termasuk dua nelayan muda yang ditangkap bulan lalu setelah dijumpai menggunakan bom untuk menangkap ikan di wilayah barat perairan.
Salah satu tersangka tertembak dan terbunuh setelah berusaha melarikan diri dengan melempar bom ikan pada penjaga. Sementara, tiga orang lain, termasuk salah satunya remaja usia 13 tahun, mengalami luka ringan.
"Anda lihat. Tak ada yang bisa mengatakan bahwa saya tidak bertidak dalam melawan mereka yang menghancurkan daerah selam ini," kata Iriyono. Menurutnya, kawasan tersebut adalah salah satu area yang terus dimonitor.
Selama dua dekade, The Nature Conservancy telah membantu mengurangi praktek perikanan tak ramah lingkungan. Zona Larang Tangkap ditetapkan sementara daerah pemijahan dan pesisir juga ikut dilindungi.
Tahun 2005, pemerintah memberikan izin pada Putri Naga Komodo, joint venture yang juga didanai oleh TNC dan World bank untuk mengoperasikan fasilitas wisata. Wisata diharapkan membuat taman nasional bisa mandiri dana.
Dengan 30.000 visitor internasional dan lokal, taman nasional bisa mendapatkan budget 1 miliar dollar. Sayangnya, pejabat pemerintah menginginkan dana langsung masuk ke pusat. Persetujuan dihentikan dan izin Putri naga Komodo ditarik.
Operator selam telah meinta TNC dan organisasi lain seperti WWF Indonesia untuk kembali ke Komodo dan membantu upaya konservasi. Namun, Arwandridja Rukma dari TNC menuturkan bahwa pihaknya hanya akan ikut serta dalam proyek jika atas undangan pemerintah.
AP yang memawancarai operator selam dan pegiat lingkungan melaporkan bahwa pemerintah Indonesia tidak melakukan perlindungan yang cukup bagi wilayah yang dikenal dengan kadal raksasa Komodo itu.
Michael Ishak, instruktur scuba dan fotografer bawah laut profesional yang telah berkunjung ke perairan ini ratusan kali mengatakan bahwa jumlah nelayan ilegal pada tahun ini lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ishak yang kembali ke perairan ini bulan lalu menuju tempat favoritnya, Tatawa Besar, menjumpai fakta bahwa terumbu karang seluas 500 meter persegi lenyap. Padahal, wilayah itu menyimpan keragaman hayati yang tinggi. Banyak juga wilayah kecil-kecil lain yang dihancurkan.
"Pertama, saya pikir, ini tak benar. Saya pasti berada di tempat yang salah," kata Ishak yang sampai harus memastikan berkali-kali bahwa ia memang mengamati wilayah yang biasa diselami sebelumnya.
"Tapi ternyata itu benar. Semua koral keras baru saja diledakkan, hancur, berjatuhan. Beberapa diantaranya masih hidup. Saya tak pernah melihat ini sebelumnya," ungkap Ishak seperti dikutip AP, Jumat.
Wilayah perairan yang kaya terumbu karang itu seharusnya dilindungi. Namun, banyak nelayan yang datang untuk berburu ikan seperti kerapu dan kakap. nelayan datang dengan perahu kecil dengan jaring. beberapa lainnya menggunakan "peledak" campuran minyak tanah dan pupuk di botol bir.
Bernafas dengan tabung yang dihubungkan pada kompresor di permukaan, nelayan muda biasanya menyelam ke lautan untuk menyemprotkan sianida, kemudian menyetrum dan menangkap ikan yang ada di terumbu karang.
Jos Pet, ilmuwan perikanan yang berpengalaman bekerjasama dengan pegiat konservasi mengatakan, "Masalah terbesar adalah nelayan bebas menuju Komodo, mengabaikan zonasi dan peraturan tentang pengambilan sumber daya. Mudah mencari ikan di wilayah warisan dunia ini."
Sementara, memberikan tanggapan, Sustyo Iriyono dari Taman nasional Komodo mengatakan bahwa masalah yang ada terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menampik klaim longgarnya pengawasan atau penegakan hukum.
Iriyono menuturkan, penjaga sudah menahan 60 nelayan ilegal selama 2 tahun terakhir, termasuk dua nelayan muda yang ditangkap bulan lalu setelah dijumpai menggunakan bom untuk menangkap ikan di wilayah barat perairan.
Salah satu tersangka tertembak dan terbunuh setelah berusaha melarikan diri dengan melempar bom ikan pada penjaga. Sementara, tiga orang lain, termasuk salah satunya remaja usia 13 tahun, mengalami luka ringan.
"Anda lihat. Tak ada yang bisa mengatakan bahwa saya tidak bertidak dalam melawan mereka yang menghancurkan daerah selam ini," kata Iriyono. Menurutnya, kawasan tersebut adalah salah satu area yang terus dimonitor.
Selama dua dekade, The Nature Conservancy telah membantu mengurangi praktek perikanan tak ramah lingkungan. Zona Larang Tangkap ditetapkan sementara daerah pemijahan dan pesisir juga ikut dilindungi.
Tahun 2005, pemerintah memberikan izin pada Putri Naga Komodo, joint venture yang juga didanai oleh TNC dan World bank untuk mengoperasikan fasilitas wisata. Wisata diharapkan membuat taman nasional bisa mandiri dana.
Dengan 30.000 visitor internasional dan lokal, taman nasional bisa mendapatkan budget 1 miliar dollar. Sayangnya, pejabat pemerintah menginginkan dana langsung masuk ke pusat. Persetujuan dihentikan dan izin Putri naga Komodo ditarik.
Operator selam telah meinta TNC dan organisasi lain seperti WWF Indonesia untuk kembali ke Komodo dan membantu upaya konservasi. Namun, Arwandridja Rukma dari TNC menuturkan bahwa pihaknya hanya akan ikut serta dalam proyek jika atas undangan pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar